Hallo insan pendidik yang
berbahagia, perkenalkan saya Aris Margo Susanto, S.Pd.I mengajar di SD Negeri
Sewukan 1 Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang CGP Angkatan 9. Pada kesempatan
kali ini saya akan menyampaikan sedikit tentang kesimpulan dan refleksi yang saya dapatkan selama mempelajari
filosofi Ki Hajar Dewantara. Semoga melalui tulisan saya ini bisa memahami arti
dari Merdeka belajar untuk siswa.
Pembelajarn adalah proses
interaksi antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik pada
suatu lingkungan belajar. Selain itu pembelajaran merupakan suatu proses untuk
membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik melalui proses perolehan
ilmu, penguasaan serta pembentukan sikap peserta didik.
Sebagai seorang pendidik
(guru) harus melaksanakan dasar kerja pendidik seperti yang telah di cetuskan
oleh Ki Hajar Dewantara yaitu : Ing Ngarsa Sung Tulodho (di depan
memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (ditengah membangun semangat,
kemauan), Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dorongan) yang dalam
pelaksanaannya pendidik harus berkolaborasi dengan orang tua maupun Masyarakat.
Menurut Ki Hajar
Dewantara, Pendidikan berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Dalam kodrat
alam disini kita sebagai seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik
demi membentuk karakter siswa yang mereka terapkan baik di sekolah, rumah
maupun Masyarakat. Sedangkan kodrat zaman, pada Pendidikan global saat ini
menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki kemampuan yang bisa mengikuti
sesuai perkembangan jaman yang lebih menjurus ke digitalisasi Pendidikan.
Setelah saya mempelajari
dan merefleksikan filosofis Pemikiran Ki Hajar Dewantara, ada beberapa pokok
penting sebagai bekal saya sebagai Calon Guru Penggerak yang memerdekakan anak
dalam proses belajar.
1.
Apa
yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya
mempelajari modul 1.1
Menurut saya,
siswa sebagai peserta didik adalah ibarat kertas kosong yang harus kita gores
untuk menjadi sebuah buku yang baik. Seorang guru bertugas mentransfer
pengetahuan dan keterampilan anak. Yang mana apa yang diberikan sudah satu
paket dengan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pembelajaran adalah proses
membuat peserta didik menjadi aktif. Pembelajaran disini terpusat pada peran
guru sebagai pendidik yang sangat dominan. Pembelajaran adalah kegiatan belajar
mengajar di dalam ruang kelas. Dan Saya lebih terfokus ke tuntutan kompetensi
sesuai kurikulum dan cenderung melaksanakan pembelajaran sesuai apa yang
tertulis dalam kurikulum dan harus menyelesaikan dalam satu semester sesuai
dengan target kurikulum.
Dalam
pembelajaran di kelas saya terfokus untuk target kurikulum dengan mengajar,
memberikan tugas. Saya berpikir sangat mudah dalam mengajar karena memberikan
materi, Tugas dan anak bisa mengumpulkan tepat waktu tanpa merefleksikan
tentang pembelajaran yang memerdekakan anak. Dan saya juga sering mengeluh
karena ada sebagian anak yang tidak mengumpulkan tugas, sulit di atur dan
lambat berpikir walaupun soal-soal dan materi itu saya sudah jelaskan.
Dan terkadang saya juga menngunakan metode ancaman agar siswa-siswa mau
menyelesaikan tugas yang saya berikan. Dan Ternyata metode seperti itu tidak
salah atau tidak diperkenankan dalam proses Pembelajaran.
2.
2. Apa
yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?
Pemikiran atau prilaku saya setelah
mempelajari filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Saya menyadari
kekeliruan bahwa selama ini berpendapat bahwa, pembelajaran hanya berpusat pada
seorang guru yang mengajarkan pembelajaran ke siswa. Perubahan yang saya
rasakan dari mempelajari filosofis Ki Hajar Dewantara dalam Proses
Pembelajaran yang dilakukan di kelas bertujuan untuk mendidik anak sebagai
Subjek bukan Objek (Karena anak adalah pusat pendidikan).
Dalam pembelajaran tidak menghendaki Paksaan-paksaan
melainkan memberi “tuntunan” bagi hidup anak agar dapat berkembang dengan
selamat, baik lahir maupun batinnya. Menyadari bahwa setiap anak itu istimewa,
unik, dan memiliki potensi dalam dirinya. Anak
dididik di sekolah sesuai dengan bakat dan minat. Pendidik sebagai Tut Wuri
Handayani berperan menuntun, mengasuh, membimbing anak sesuai kodratnya agar
jiwanya merdeka lahir dan bathin. Guru memberikan kebebasan pada anak dalam
memilih gaya belajar yang mereka sukai. Dari yang tadinya hanya menuruti
instruksi akan berubah menjadi “Merdeka Belajar “.
Merdeka Belajar yang saya lakukan di Kelas,
mata pelajaran saya Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Sewukan 1, dengan materi Shalat. dalam materi
ini saya menjelaskan materi pembelajaran saya, dan saya membebaskan
siswa untuk menggunakan bacaan shalat sesuai dengan kepercayaannya. Ada yang
menggunakan kabiro, ada yang menggunakan ba’it baini.
Dalam hal ini, Kita sebagai pendidik harus
berusaha menjadi pemimpin yang memerdekakan dan memberi teladan, memberi
semangat, memberi dorongan dan serta mengayomi peserta didik, Guru menjadi
fasilitator dan motivator dalam pembelajaran sebagai mitra belajar bagi peserta
didik.Karena tujuan dari pendidikan kita harus berfokus pada murid, murid dan
murid. Pendidik adalah penuntun sehingga dalam pembelajaran di sekolah tugas
guru menuntun, membimbing peserta didik dalam mencari dan menemukan
konsep-konsep teori dan membantu mereka menerapkan konsep dan teori yang sudah
mereka pelajari dalam kehidupannya sehingga anak-anak atau peserta didik tidak
kehilangan arah dan membahayakan hidupnya.
3. 3. Apa yang
bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran
KHD?
a. Saya
sebagai pendidik harus disiplin dalam waktu ke sekolah
b. Jadilah
Seorang guru yang bersahabat dengan peserta didik agar siswa merasa nyaman
ketika melakukan proses pembelajaran.
c. Guru harus
menjadi teladan, memberi semangat, memberi dorongan dalam menanamkan nilai
karakter kedisiplinan dan kerjasama, tolong menolong dalam setiap kegiatan
yang ada disekolah.
d. Mendorong
dan memotivasi peserta didik untuk saling berbagi solidaritas jika ada salah
satu warga sekolah yang mengalami kekurangan misalnya alami musibah, orang
tua meninggal, membiasakan anak mencintai lingkungan kelas/ sekolah.
e. Meningkatkan
karakter anak dengan pembiasaan dengan cara saling menghormati antar peserta
didik dengan gurun dan peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya.
Diakhir Tulisan saya ini, saya
ingin menyimpulkan bahwa Peserta didik diberi kebebasan untuk bereksplorasi,
berinovasi dan mengembangkan potensi sesuai dengan kodratnya masing-masing.
Tugas kita sebagaiseorang guru, memberikan tuntunan, arahan, bimbingan agar
kemerdekaan mereka tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang datang. Belajar
bisa dilakukan dimanapun sesuai konteksnya. Semua tempat adalah sekolah, semua
rumah adalah sekolah. Untuk itu, guru harus terus mengembangkan kompetensinya
agar bisa beradaptasi dengan perubahan. Kita harus memahami peserta didik
sebagai individu yang unik, khas sesuai kodratnya.
Refleksi Pemikiran Filosofis Ki
Hajar Dewantara, Saya ingin mengajak para pendidik semua untuk lebih memahami tentang
Dasar Pemikiran Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara, sehingga kita dapat
mentransformasikan perubahan ekosistem belajar yang terpusat kepada Anak, Anak
dan anak.